Tumpukan sisa panen sering kali berakhir menjadi kepulan asap pekat di sudut-sudut lahan pertanian. Petani di Desa Limbangan, Kecamatan Kutasari, lama terbiasa membiarkan kulit jagung membusuk atau membakarnya begitu saja. Padahal, sisa organik tersebut menyimpan potensi besar yang luput dari pandangan awam.
Sentuhan Akademisi Mengubah Limbah Menjadi Solusi
Langkah nyata memutus siklus pemborosan itu datang dari civitas akademika Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA) Cilacap. Mereka membimbing warga setempat mengolah limbah yang kerap disebut klobot tersebut.
Tim pengabdian ini digawangi oleh Ichya Musytafizur Ziqri, S.T., M.Si., bersama Arnesya Ramadhani, S.T., M.T., serta Anisha Dian Iswahyuni, S.T., M.Sc. Gerakan ini turut diperkuat oleh keterlibatan mahasiswa Program Studi Teknik Kimia, yakni Happy Ayu Puspa Sari dan Destiana Zalza Wulan Nabila.
“Berbagi ilmu, membangun petani lebih maju! Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap sukses melaksanakan program pengabdian masyarakat di Desa Limbangan, Kecamatan Kutasari. Kami berfokus pada Pemanfaatan Limbah Pertanian (Kulit Jagung) Menjadi Pupuk Organik Cair dan Biopestisida untuk memajukan potensi lokal secara berkelanjutan,” kata Ichya Musytafizur.
Teknologi Tepat Guna di Tangan Petani
Praktik pengolahan dirancang sesederhana mungkin agar mudah diserap warga. Klobot jagung dicacah hingga berukuran mini, lalu dicampur dengan air, molase, serta bioaktivator. Campuran tersebut kemudian menjalani fermentasi anaerob dalam kurun waktu 14 hingga 21 hari.
Cairan hasil peruraian disaring dan siap diaplikasikan sebagai pupuk organik cair untuk memicu pertumbuhan vegetatif tanaman. Sementara itu, sisa bahan lainnya diolah lewat teknik maserasi serta penyulingan sederhana demi menghasilkan biopestisida alami.
Warga tampak bersemangat mengikuti seluruh rangkaian acara. Mereka mempraktikkan langsung cara memilah bahan baku, meracik starter fermentasi, hingga merancang kemasan produk.
Kemandirian Menuju Perekonomian Desa
Dukungan finansial untuk seluruh rangkaian kegiatan ini berasal dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Pendanaan 2026.
Inovasi ini diyakini mampu memangkas ketergantungan warga terhadap bahan kimia sintetis. Lebih jauh lagi, racikan ramah lingkungan tersebut menyimpan peluang besar untuk dikemas secara profesional sebagai komoditas penopang ekonomi kreatif tingkat desa.


















