Patimuan, Cilacap – Rintik hujan yang membasahi Desa Bulupayung, Kecamatan Patimuan, pagi itu tidak menyurutkan aktivitas di sebuah lapak sederhana di pinggir jalan desa. Di samping gerobak dagangan yang kokoh, beberapa perempuan tampak sibuk mengemas pesanan. Di sinilah, Kelompok Usaha Bersama (KUB) Fatayat Desa Bulupayung sedang merajut asa kemandirian ekonomi melalui jaringan kewirausahaan yang solid.
Usaha ini dimotori oleh Latifatul Barokah, seorang guru yang mendedikasikan waktu luangnya untuk menggerakkan potensi ekonomi 15 anggota Fatayat di desanya. Meski cuaca mendung sesekali membawa hujan, semangat mereka tetap cerah, mencerminkan optimisme kelompok yang baru berjalan selama tiga bulan ini.
Reorientasi Bisnis: Dari Musiman Menjadi Harian
Awalnya, kelompok ini dikenal dengan nama “Berkah Cookies” yang berfokus pada produksi kue kering menjelang lebaran. Namun, Latifah menyadari bahwa model bisnis musiman memiliki keterbatasan dalam menjaga arus kas anggota.
“Dulu kita fokus di kue lebaran, tapi karena momennya hanya satu tahun sekali, kami memikirkan bagaimana caranya agar ada usaha yang bisa berjalan setiap hari. Akhirnya kami banting setir ke snack makanan ringan dan telur asin agar setiap hari ada pemasukan,” ujar Latifatul Barokah saat ditemui di sela-sela aktivitasnya.
Transformasi ini terbukti efektif. KUB Fatayat kini menyediakan berbagai produk mulai dari keripik pisang, bawang goreng, hingga telur asin baik matang maupun mentah dan produk makanan ringan lainnya.

Pemanfaatan Jejaring dan Dukungan Politik
Keberhasilan KUB Fatayat tidak lepas dari kemampuan mereka mengonsolidasi potensi internal. Anggota yang memiliki keahlian di bidang katering dan produksi makanan ringan diberdayakan untuk memproduksi barang dari rumah masing-masing, sementara sisanya terpusat di kediaman Latifah.
Langkah strategis ini juga mendapat dukungan dari sektor legislatif. Saiful Musta’in, anggota DPRD Cilacap dari Fraksi PKB, turut mendorong potensi ini melalui bantuan alat produksi. Selain itu, aspek sarana prasarana didukung oleh bantuan modal dari BAZNAS Kabupaten Cilacap sebesar Rp3 juta yang digunakan untuk pengadaan gerobak dan modal awal pembukaan lapak.
“Potensi teman-teman itu besar, ada yang pintar produksi snack, ada yang jago katering. Potensi itu kita gabungkan agar jika ada kegiatan Fatayat, kita tidak lagi hanya mengandalkan iuran anggota, tapi punya kas sendiri,” tambah Latifah.
Manajemen Transparan dan Keuntungan Berjenjang
Dalam hal pengelolaan, KUB Fatayat menerapkan sistem yang sangat disiplin namun tetap mengedepankan kesejahteraan anggota. Untuk produk titipan anggota, KUB mengambil margin keuntungan sebesar Rp1.000. Selisih tersebut dibagi menjadi dua: Rp500 untuk anggota yang melakukan pengiriman (delivery order) dan Rp500 untuk kas KUB.
Transparansi menjadi kunci utama kepercayaan kelompok. Setiap pemasukan dan keuntungan harian selalu dilaporkan secara real-time melalui grup WhatsApp. Dalam tiga bulan, keuntungan bersih kelompok telah mencapai angka Rp4,5 juta.
“Untuk pengelolaan keuangan, sementara masih saya pegang langsung karena banyak relasi yang menitipkan barang. Bendahara Fatayat nantinya menerima bagi hasil keuntungan bersihnya saja agar lebih mudah administrasinya. Yang terpenting, uang hasil keuntungan ini memang sepenuhnya untuk anggota, baik dalam bentuk bonus mingguan maupun aset pendukung usaha,” jelasnya secara rinci.
Menjadi Inspirasi di Tingkat Kabupaten
Keberadaan KUB Fatayat Bulupayung kini mulai diakui secara luas. Pemerintah Desa Bulupayung telah mulai mempercayakan kebutuhan konsumsi acara resmi desa kepada KUB. Bahkan, kelompok ini menjadi percontohan bagi ranting Fatayat lain di Kabupaten Cilacap.
Salah satu produk unggulan yang paling diminati adalah telur asin, hasil kerja sama dengan distributor besar yang merupakan suami dari salah satu anggota. Dalam waktu tiga hari saja, mereka mampu memasarkan hingga 200 butir telur.
“Alhamdulillah, kami sekarang menjadi kelompok percontohan. Saat acara fashion show di tingkat kabupaten kemarin, kami diundang dan diberikan stand gratis untuk promosi. Meskipun ada dari daerah lain yang tertarik belajar, sejauh ini baru kami yang benar-benar bergerak secara konsisten,” kata Latifah sambil tertawa kecil mengekspresikan rasa syukurnya.
Mengikuti kemajuan jaman, kekuatan promosi KUB Fatayat juga terletak pada ekosistem digital mereka. Mereka memanfaatkan grup WhatsApp dan Facebook untuk sistem pesanan antar.
“Kalau mengandalkan lapak fisik saja sepertinya memang sulit. Maka kami harus inisiatif memanfaatkan jejaring yang ada. Intinya adalah konsistensi dan kreativitas membuat produk yang berbeda dari yang lain,” pungkasnya.
Di bawah langit Bulupayung yang masih mendung, KUB Fatayat telah membuktikan bahwa kemandirian ekonomi bukan sekadar wacana, melainkan hasil dari kolaborasi yang terorganisir dan komitmen yang tak tergoyahkan.


















