Cipari – Matahari menyengat kulit di Desa Sidasari, Kecamatan Cipari, Cilacap. Di antara bentangan sawah padi dan palawija yang mendominasi cakrawala, sebuah lahan tampil tidak begitu mencolok tapi berbeda dari lahan sekitarnya. Setelah diamati, Kebun itu milik Mufroid, pria paruh baya yang memilih jalan berbeda dengan menyemai semangka varietas non biji.
Langkah kakinya mantap menyusuri galengan. Bagi Mufroid, lahan ini bukan sekadar media tanam, melainkan muara dari pengembaraan panjang selama 17 tahun di Brunei Darussalam. Ia pulang membawa lebih dari sekadar modal; ia membawa ketangguhan seorang perantau.
“Saya merantau di Brunei, menyewa lahan pertanian sendiri di sana,” ungkap Mufroid mengenang masa-masa di negeri seberang.
Nyantri Sambil Bekerja
Kisah sukses ini bermula dari keterbatasan ekonomi keluarga. Masa muda Mufroid dihabiskan dengan berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain sejak 1999, mulai dari Trenggalek, Nganjuk, Kediri, hingga Kebumen. Ia bukan santri biasa yang hanya duduk di depan kitab suci.
Ia sengaja mencari pondok yang mengizinkan santrinya bekerja demi menutup biaya hidup dan uang saku. Pertanian menjadi pilihan utama karena memberikan ruang untuk belajar sekaligus bertahan hidup. Di sela-sela mengaji, jemarinya terbiasa bergulat dengan lumpur dan bibit tanaman.
Prinsip tabarukan atau mencari berkah ia jalani hingga 2003. Keinginan membantu ekonomi keluarga begitu kuat, hingga ia menunda keinginan menikah. Setelah mukim, keraguan sempat menghampiri, namun dengan berbagai pertimbangan akhirnya mengantarkan Mufroid melintasi batas negara menuju Brunei.
Bertaruh Nasib di Tanah Rantau
Delapan tahun pertama di Brunei adalah fase ujian fisik. Mufroid melakoni apa saja, mulai dari kuli proyek bangunan hingga kurir toko. Namun, panggilan alam membawanya kembali ke sektor pertanian yang dirasanya memiliki kecocokan batin sejak zaman pesantren.
Kepuasan spiritual muncul saat ia melihat biji yang disemai tumbuh menjadi buah yang bermanfaat. Baginya, bertani adalah bentuk syukur yang paling nyata. Keberaniannya memuncak ketika ia memutuskan menyewa lahan mandiri seluas 3.500 meter persegi untuk menanam palawija sebelum akhirnya fokus ke semangka.
“Itu baru dari biji saja itulah yang membuat saya yang berprofesi sebagai petani menjadi ajang rasa bersyukur,” tuturnya lirih.
Puncak manis perjuangan di rantau terjadi saat panen raya tiba. Tanpa sepengetahuan sang istri, Mufroid mengirim uang Rp130 juta kepada temannya untuk membeli sebuah mobil. Kendaraan itu bukan untuk pamer, melainkan aset agar hasil keringatnya tidak habis begitu saja untuk konsumsi harian.
Pulang dan Menanam Harapan
Pandemi Covid-19 pada 2020 menjadi titik balik. Mufroid memutuskan mengakhiri masa rantaunya meski empat anaknya lahir tanpa pernah ia saksikan secara langsung proses persalinannya. Rasa iba keluarga melihat fisiknya yang mulai lelah menjadi alasan kuat untuk menetap di tanah air.
Awal kepulangannya diwarnai kebingungan. Mencoba menanam padi justru berujung kegagalan karena hasil yang tidak maksimal. Di tengah kebuntuan itu, memori tentang teknik budidaya semangka di Brunei kembali muncul sebagai solusi terakhir yang harus ia coba.
Keyakinan Mufroid pun bulat untuk mengolah tanahnya menjadi lahan semangka. Bermodalkan ingatan dan pengalaman di negeri jiran, ia mulai menyemai benih serta merawatnya dengan ketelitian ekstra. Jerih payah tersebut terbayar lunas saat uji coba pertamanya membuahkan hasil memuaskan, di mana pohon-pohon yang ia tanam tumbuh subur dan menghasilkan buah dengan bobot serta rasa yang sesuai ekspektasi.
Tapi, perjuangan belum selesai, proses memasarkan hasil panen pertama tidaklah instan. Namun, kualitas buah yang dihasilkan perlahan mencuri perhatian. Kini, semangka non biji dari kebun Mufroid menjadi buruan utama para pedagang buah di wilayah sekitar Cipari hingga Sidareja.
Kehidupan Mufroid membuktikan bahwa keahlian yang dipupuk dengan ketekunan tidak akan pernah mengkhianati pemiliknya. Di Sidasari, ia tak lagi mengejar dolar atau ringgit, melainkan merawat kemandirian di atas tanah sendiri, tempat di mana doa-doa masa santrinya kini berbuah manis.



















