Cilacap, Kedungreja – Di tengah kesibukan mengaji dan hafalan yang menjadi denyut nadi Pondok Pesantren Rubat Darul Hikmah Ell Firdaus di Tambaksari, Kedungreja, Cilacap, tersembunyi sebuah kisah inspiratif tentang perpaduan unik antara spiritualitas dan semangat wirausaha. Soiman (25), seorang santri asal Gombong, Kebumen, yang telah mengabdi dan menimba ilmu sejak tahun 2016, telah menorehkan jejak sebagai seorang entrepreneur muda di lingkungan pondok.
Selama sembilan tahun, pesantren telah menjadi rumah kedua bagi Soiman. Namun, perjalanan nyantri-nya tak selalu lurus. Ia pernah mencoba tantangan dunia luar, sempat berhenti mondok, dan mencoba peruntungan di Kalimantan dengan membantu kakaknya berjualan mi ayam. Keputusan itu tak bertahan lama. Dorongan kuat dari orang tua membawanya kembali ke pondok, sebuah titik balik yang mengubah orientasi hidupnya.
“Dulu saya kurang serius. Setelah kembali (mondok), saya mulai memutar otak bagaimana caranya mengkolaborasikan antara aktivitas ngaji dan berwirausaha.” Ujar Soiman.

Memanfaatkan Peluang di Waktu Luang dan Nasi Sisa
Latar belakang di pondok pesantren Rubat Darul Hikmah Ell Firdaus memang mendukung semangat ini. Pihak pondok sejak awal menekankan pentingnya santri memiliki bekal wirausaha sebagai persiapan saat mereka kembali ke masyarakat (mukim). Selain itu, Soiman menyadari bahwa ia memiliki banyak waktu luang di siang hari, sebuah celah yang harus diisi dengan kegiatan positif dan menghasilkan. Ide wirausaha Soiman muncul dari sebuah pengamatan sederhana di dapur pondok.
“Saat itu saya kadang ikut membantu di dapur pondok, saya kok mikir, ini banyak nasi sisa, sayang kalau dibuang,” kenangnya.
Naluri wirausahanya pun terpicu, bagaimana memanfaatkan sisa makanan pesantren menjadi sesuatu yang bernilai? Pilihannya jatuh pada beternak unggas jenis entok (menthog).
Selain pertimbangan memanfaatkan nasi sisa, entok dirasa lebih mudah perawatannya dibandingkan ternak lain. Berbekal uang saku yang ia sisihkan dari kiriman orang tua, Soiman memulai usahanya.
“Modal awal mengandalkan uang saku. Saya menyisihkan beberapa untuk membeli anakan entok,” katanya.
Awalnya sangat sederhana, hanya dua anakan dan dua bibit entok betina. Untuk mengawinkan bibit betina, ia bahkan harus meminjam pejantan dari teman.
“Tapi Alhamdulillah berhasil,” ujarnya bangga.
Berwirausaha Dalam Keterbatasan dan Fleksibilitas
Meski diawali dengan sangat sederhana, kini, jumlah unggasnya telah mencapai puluhan ekor. Saat ini, fokus utama Soiman adalah mengembangbiakkan ternaknya agar bertambah banyak, bukan untuk dijual secara masif. Penjualan hanya dilakukan dalam kondisi mendesak.
“Kalau mau pulang kampung tidak ada uang, ya terpaksa jual ternak, 1 ekor bibit atau 2 ekor, sebenarnya fokus ke perkembangbiakannya ” jelasnya sambil tertawa kecil.
Sistem perawatan yang ia terapkan juga sangat fleksibel dan efisien. Pihak pondok tidak pernah melarang kegiatan ini. Justru, santri bebas berwirausaha, asalkan pandai membagi waktu.
“Waktunya ngaji ya ngaji, sudah paten. Tapi berhubung ngajinya malam, jadi kita bisa lebih mudah mengatur waktu,” jelasnya.
Perawatan entok yang relatif mudah menjadi kunci. Hanya butuh diberi makan pagi dan sore. Soiman sengaja menerapkan metode mengumbar ternak, yang ia yakini membuat entok lebih sehat, meskipun ada risiko hilang.
Keuntungan terbesar yang didapatkan Soiman adalah pada masalah pakan. Ketersediaan makanan sisa di pondok setiap hari secara signifikan meringankan beban keuangannya, mengubah biaya operasional menjadi keuntungan.
Bukti Nyata Kolaborasi Ngaji dan Wirausaha
Meskipun jumlah unggas yang dipelihara Soiman belum tergolong skala besar, kisahnya memberikan bukti nyata bahwa lingkungan pendidikan agama yang kental tidak menjadi penghalang bagi semangat kewirausahaan. Soiman membuktikan bahwa siapa pun, dengan kemauan dan niat yang kuat, berhak dan mampu memulai usaha.
Ia telah berhasil merangkai benang merah antara ibadah, menuntut ilmu, dan membangun kemandirian ekonomi. Wirausaha, bagi Soiman, bukan sekadar mencari uang, melainkan menjadi bagian integral dari perjalanan membangun diri dan mempersiapkan bekal masa depan, tanpa harus meninggalkan nilai-nilai luhur yang telah ia pelajari selama sembilan tahun di pondok pesantren.


















