Siang itu udara Desa Margasari, Kecamatan Sidareja, Cilacap, terasa seperti siang di desa pada umumnya: hangat, agak malas, dan penuh suara motor lewat yang knalpotnya kadang lebih semangat daripada pemiliknya. Di sebuah ruang sederhana tempat usaha bernama Zeeni Media, mesin printer berdengung seperti lebah yang rajin cari nafkah. Bau tinta samar-samar bercampur dengan aroma kertas baru—bau yang bagi sebagian orang mungkin biasa saja, tapi bagi Aziz Khozin, ini adalah bau perjuangan.
Aziz bukan pengusaha yang lahir dari seminar motivasi. Ia juga bukan tipe anak muda yang tiba-tiba viral karena cerita “dari nol sampai miliaran”. Ceritanya lebih sederhana, lebih realistis, dan justru karena itu terasa lebih dekat: anak SMK yang keburu mikir omset saat teman-temannya masih sibuk mikir tempat nongkrong.
Di usia ketika kebanyakan pelajar sibuk merencanakan futsal sore atau nongkrong sambil debat siapa yang traktir es teh, Aziz justru punya rutinitas yang agak… berbeda.
Pagi sekolah.
Sore kerja.
Malam kadang masih mikir orderan.
Kalau hidup ini game, Aziz seperti pemain yang memilih level “hard mode” sejak awal.
Ketika PKL Bukan Sekadar Formalitas
Kisahnya bermula dari sesuatu yang bagi siswa SMK terdengar sangat familiar: PKL (Praktik Kerja Lapangan). Biasanya PKL ini punya dua kemungkinan nasib. Pertama, benar-benar jadi tempat belajar. Kedua, jadi tempat belajar… cara pura-pura sibuk.
Aziz memilih opsi pertama.
Ia ditempatkan di sebuah percetakan. Awalnya mungkin tidak ada yang terlalu dramatis. Ia belajar desain, cetak, melayani pelanggan—hal-hal yang bagi orang lain mungkin terasa teknis saja.
Namun ada satu hal yang perlahan membuat cara pandangnya berubah: uang.
Bukan uang dalam arti glamor. Bukan juga uang yang datang dari amplop THR atau kiriman orang tua. Tapi uang yang datang dari hasil kerja sendiri.
“Di situ saya merasa seperti ‘teracuni uang’,” kata Aziz suatu waktu.
Tentu saja bukan racun dalam arti buruk. Lebih tepatnya seperti menemukan rasa baru dalam hidup: kepuasan ketika keringat sendiri bisa berubah menjadi rupiah.
Sejak saat itu, setelah jam sekolah selesai sekitar pukul setengah tiga sore, Aziz tidak langsung pulang seperti kebanyakan siswa lain. Ia lanjut bekerja di percetakan sampai menjelang magrib.
Rutinitasnya sederhana tapi padat:
Sekolah sampai siang.
Kerja sampai sore.
Belajar langsung dari lapangan.
Sementara teman-temannya mungkin sedang debat tempat nongkrong, Aziz justru mulai akrab dengan istilah seperti orderan, pelanggan, dan margin keuntungan.
Mengintip Dapur Bisnis Orang Lain
Ada satu kebiasaan Aziz yang mungkin tidak semua karyawan lakukan: mengamati.
Saat bekerja di percetakan itu, ia tidak hanya fokus menyelesaikan pekerjaan. Ia juga memperhatikan bagaimana bisnis itu berjalan.
Berapa kira-kira omset harian?
Berapa harga produksi satu cetakan?
Bagaimana alur pesanan masuk sampai selesai?
Pelan-pelan, potongan puzzle itu mulai membentuk gambar yang jelas di kepalanya.
Bisnis percetakan ternyata bukan sekadar mesin dan tinta. Di baliknya ada sistem, ada pelanggan tetap, ada peluang.
Dan yang paling penting: ada kemungkinan untuk dibangun sendiri.
Bagi sebagian orang, melihat peluang bisnis seperti melihat komet langka—sekali lewat langsung hilang. Tapi bagi Aziz, peluang itu justru muncul dari rutinitas yang ia jalani setiap hari.
Memulai dari Peralatan yang Tidak Mewah
Tidak ada cerita heroik tentang investor besar atau modal ratusan juta. Awal usaha Aziz justru cukup sederhana, bahkan bisa dibilang khas cerita usaha anak muda desa.
Printer sempat meminjam dari teman.
Peralatan kecil dibeli pelan-pelan.
Modal awal sebagian dibantu orang tua.
Ia mencicil semuanya sedikit demi sedikit.
Jika ada orang yang membayangkan membuka bisnis harus langsung dengan mesin besar, ruangan luas, dan papan nama megah, kisah Aziz justru kebalikannya.
Ia memulai dari apa yang ada.
Satu alat hari ini.
Satu alat lagi nanti.
Pelan-pelan, tapi jalan.
November 2019: Keluar dari Zona Aman
Momen penting itu datang pada November 2019. Aziz mengambil keputusan yang bagi banyak orang terasa cukup nekat: keluar dari pekerjaan dan fokus membangun usaha sendiri.
Keputusan ini bukan seperti di film-film bisnis yang penuh musik motivasi. Realitasnya jauh lebih sepi.
Menjadi karyawan itu jelas: ada gaji bulanan.
Menjadi pengusaha? Kadang orderan datang, kadang juga tidak.
Ada klien yang bayar tepat waktu.
Ada juga yang… “masih bon dulu ya mas”.
Di dunia percetakan, arus kas bisa seperti cuaca di musim pancaroba: kadang cerah, kadang mendung tanpa aba-aba.
Aziz mengakui bahwa tantangan terbesar bukan pada teknis produksi. Mesin bisa dipelajari. Desain bisa dilatih.
Yang sulit justru mental menghadapi ketidakpastian.
Ada bulan ketika target tercapai.
Ada bulan ketika target harus direvisi sambil menghela napas.
Tapi di situlah mental pengusaha diuji.
Tidak Sekadar Usaha, Tapi Sistem
Hal menarik dari cara berpikir Aziz adalah satu kata yang sering luput dari pengusaha pemula: sistem.
Ia tidak hanya ingin punya usaha. Ia ingin punya usaha yang tetap berjalan meski ia tidak selalu berada di tempat.
Pemikiran ini muncul ketika ia punya rencana mengikuti pelatihan bahasa untuk bekerja ke Korea Selatan. Banyak orang langsung bertanya hal yang sama:
“Kalau kamu berangkat, usaha ini siapa yang jalanin?”
Aziz ternyata sudah memikirkan jawabannya jauh-jauh hari.
Ia mulai melatih beberapa orang di sekitarnya. Ada yang diajari desain grafis, ada yang belajar teknik sablon, ada juga yang memahami dasar operasional percetakan.
Targetnya jelas: usaha ini harus tetap hidup, bahkan jika pemiliknya sedang tidak ada di ruangan.
Ini perbedaan tipis tapi penting antara pekerja mandiri dan pengusaha.
Pekerja mandiri bekerja selama ia ada.
Pengusaha membangun sistem yang tetap berjalan meski ia pergi.
Ketika Bisnis dan Hubungan Pribadi Tidak Bertabrakan
Ada satu topik yang jarang muncul dalam cerita pengusaha muda: hubungan pribadi.
Banyak yang mengira bisnis dan hubungan asmara adalah dua dunia yang sering bertabrakan. Jam kerja panjang, fokus usaha, target keuangan—semuanya bisa jadi sumber konflik.
Aziz memilih pendekatan berbeda.
Alih-alih memisahkan dunia usaha dan kehidupan personal, ia justru melibatkan pasangannya dalam ekosistem yang sama.
Pasangannya bergerak di bidang wedding supply, sementara Aziz fokus pada advertising dan digital printing—dua bidang yang secara alami saling terhubung dalam industri pernikahan.
Undangan, dekorasi, materi promosi—semuanya seperti puzzle yang akhirnya saling melengkapi.
Dengan cara ini, kesibukan justru tidak menjadi jarak. Mereka berada di frekuensi yang sama.
Kadang dalam hidup, memahami kesibukan pasangan ternyata lebih penting daripada sekadar mencari waktu luang.
Tentang Sekolah dan Realitas
Meski kisahnya dimulai dari kerja sejak SMK, Aziz tidak pernah menjual narasi romantis tentang putus sekolah lalu sukses.
Justru sebaliknya.
“Sekolah itu penting. Selesaikan dulu pendidikan. Jangan berpikir bahwa semua orang yang tidak sekolah bisa sukses.”
Kalimat itu ia ucapkan dengan kesadaran penuh bahwa setiap orang punya jalan yang berbeda.
Tidak semua orang punya peluang yang sama.
Tidak semua orang punya akses yang sama.
Dan tentu saja, tidak semua orang punya mental tahan banting menghadapi bisnis.
Sekolah, bagi Aziz, bukan sekadar tempat mengejar nilai. Ia adalah ruang untuk menemukan bakat, membangun jaringan, dan belajar memahami diri sendiri.
Ia bahkan mengakui pernah merasa iri melihat teman-temannya menikmati masa sekolah dengan lebih santai.
Namun waktu berjalan seperti biasa: tidak bisa diputar ulang.
Yang bisa dilakukan hanya satu: mensyukuri jalan yang sudah dipilih.
“Usaha Tidak Akan Pernah Mengkhianati Hasil”
Di antara semua cerita tentang mesin, pelanggan, dan keputusan berani, ada satu kalimat yang sering diulang Aziz.
“Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.”
Kalimat ini terdengar seperti poster motivasi di dinding kelas. Tapi bagi Aziz, ini bukan slogan. Ini pengalaman.
Dari meminjam printer hingga membeli sendiri.
Dari satu mesin sampai bertambah beberapa mesin.
Dari karyawan menjadi pemilik usaha.
Perjalanannya tentu belum selesai. Ia masih punya mimpi: mesin yang lebih besar, usaha yang lebih luas, bahkan mungkin gedung sendiri suatu hari nanti.
Namun fondasi itu sudah dibangun.
Mental kuat.
Manajemen rapi.
Tim yang mulai terbentuk.
Catatan Kecil untuk Anak Muda
Dari luar, kisah Aziz mungkin terlihat seperti cerita klasik tentang kerja keras. Tapi jika diperhatikan lebih dekat, ada satu pelajaran kecil yang sering kita lupakan.
Banyak anak muda menunggu momen besar untuk memulai sesuatu.
Padahal sering kali yang mengubah hidup justru hal-hal kecil: PKL yang dijalani dengan serius, pekerjaan sampingan yang tidak dianggap remeh, atau keberanian membeli satu alat sederhana.
Kadang mimpi besar tidak datang dari ide spektakuler. Ia datang dari kebiasaan sederhana yang dilakukan terus-menerus.
Dan mungkin, di sebuah desa bernama Margasari di Cilacap, suara printer yang berdengung setiap hari itu sedang mengingatkan satu hal sederhana:
Bahwa masa muda tidak selalu harus dihabiskan untuk mencari kesenangan.
Kadang, sebagian orang memilih menghabiskannya untuk membangun sesuatu—pelan-pelan, tinta demi tinta, lembar demi lembar—sampai suatu hari mereka menoleh ke belakang dan sadar:
Ternyata perjalanan itu sudah jauh sekali.



















