Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
CipariFeatured

Api yang Tak Pernah Padam: Cara Sunyi Pemuda Desa Mulyadadi Menghidupkan Karangtaruna

125
×

Api yang Tak Pernah Padam: Cara Sunyi Pemuda Desa Mulyadadi Menghidupkan Karangtaruna

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Sore itu, 27 April 2026, halaman rumah Mas Kholik kami berbincang dan mengobrol. Tidak ada spanduk kegiatan, tidak ada riuh panitia, apalagi suara pengeras acara. Hanya obrolan santai, sesekali diselingi tawa kecil. Tapi dari obrolan itulah, terbuka satu hal: dunia Karangtaruna ternyata jauh dari sekadar kumpulan pemuda desa yang “sekadar ada”.

Mas Kholik bukan orang baru. Ia pernah memimpin Karangtaruna Desa Mulyadadi Kecamatan Cipari kabupaten Cilacap selama dua periode, sebelum akhirnya kembali menjadi anggota biasa. Pilihan yang terdengar sederhana, tapi menyimpan cerita panjang tentang bagaimana organisasi ini hidup atau justru bertahan di tengah keterbatasan.

Example 300x600

“Karang Taruna itu jalan, kok. Cuma memang caranya beda-beda tiap desa,” ujarnya pelan.

Kalimat itu seperti pembuka dari realitas yang jarang terlihat.

Hidup dari Inisiatif, Bukan Sekadar Anggaran

Dalam banyak bayangan orang, kegiatan pemuda identik dengan anggaran desa. Tapi di lapangan, cerita itu tidak selalu sama.

Mas Kholik bercerita, dalam setahun memang ada dana pembinaan. Jumlahnya tidak kecil. Namun ketika masuk ke tahap kegiatan, terutama yang benar-benar menyentuh pemuda, sering kali tidak cukup hanya mengandalkan itu.

Di sinilah inisiatif mengambil peran.

Ia tetap membuat kegiatan dengan cara swadaya, bentuknya macam-macam. Turnamen voli antar kampung, pertandingan sepak bola, sampai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas. Semua digerakkan oleh pemuda, dengan cara yang kadang tak terlihat: iuran, parkir, jualan kecil-kecilan, hingga mencari sponsor.

Tidak selalu mulus. Tapi justru di situlah Karang Taruna menemukan napasnya.

Bagi Mas Kholik, organisasi ini tidak bisa hanya menunggu. Ia harus bergerak, bahkan ketika sumber daya terbatas.

“Kalau yang bikin ramai itu ya yang langsung menyentuh warga. Ada tontonan, ada interaksi,” katanya.

Bukan sekadar anggaran, tapi bagaimana kegiatan pemuda bisa diarahkan, diperkuat, dan diberi ruang berkembang.

Ketika Kolaborasi Menjadi Jalan

Salah satu titik penting dalam cerita Mas Kholik adalah pertemuan Karang Taruna dengan program “Coklat Kita” dari Djarum.

Awalnya sederhana. Hanya rekomendasi. Karang Taruna yang aktif dianggap layak untuk ikut terlibat.

Namun dari situ, pola kegiatan berubah.

“Dari situ kita belajar banyak. Cara bikin acara, cara ngatur, sampai detail teknis,” ujarnya.

Program ini bukan sekadar hiburan. Di dalamnya ada rangkaian kegiatan: seni tradisional, lomba, pentas musik, hingga ruang untuk pelaku UMKM.

Karang Taruna tidak lagi hanya jadi penonton. Mereka menjadi bagian dari penggerak.

Ada pembagian peran yang jelas. Ada Panitia dari pemuda ada, sementara ada pihak eksternal menangani teknis besar melalui event organizer.

Hasilnya terasa.

Acara berjalan rapi, waktu terjaga, dan yang paling penting: masyarakat datang.

Dampak yang Tidak Selalu Terlihat

Bagi sebagian orang, acara seperti ini mungkin hanya hiburan sehari. Datang, menonton, lalu pulang.

Tapi bagi Mas Kholik, dampaknya lebih panjang.

“Yang untung itu bukan cuma panitia. Lingkungan juga,” katanya.

UMKM bisa berjualan. Warga berkumpul. Pemuda punya ruang berkreasi. Bahkan yang sederhana seperti parkir pun bisa jadi pemasukan.

Ekosistem kecil terbentuk dan itu penting.

Ia menyebut kegiatan seperti ini sebagai “dari hulu ke hilir”. Semua terlibat. Semua bergerak.

Dan di tengah itu, Karang Taruna menemukan kembali fungsinya.

Pemuda, Ruang, dan Pengakuan

Namun perjalanan itu tidak selalu mulus. Ada satu hal yang menurut Mas Kholik masih menjadi pekerjaan rumah: ruang bagi pemuda.

Bukan soal ada atau tidak, tapi bagaimana ruang itu diisi.

“Kadang pemuda itu sebenarnya mau bergerak. Cuma butuh didampingi,” ujarnya.

Pendampingan ini bukan berarti mengatur sepenuhnya. Tapi memberi arah, membuka peluang, dan memperkuat kapasitas.

Ia percaya, ketika pemuda diberi kepercayaan, mereka bisa menciptakan kegiatan sendiri. Bahkan tanpa dorongan besar dari luar.

Yang sering kurang hanyalah keberanian awal dan dukungan untuk menjaga konsistensi.

Belajar dari Lapangan

Selama dua periode memimpin, Mas Kholik mengaku banyak belajar dari hal-hal sederhana.

Tentang bagaimana mengumpulkan orang.

Tentang bagaimana membuat kegiatan tetap berjalan meski dana terbatas.

Dan tentang bagaimana menjaga semangat tetap hidup, bahkan ketika tidak semua berjalan sesuai rencana.

Bagi dia, keberhasilan Karang Taruna bukan diukur dari seberapa besar acara, tapi seberapa sering pemuda bergerak.

Sekecil apa pun kegiatannya.

Menjaga Api Tetap Menyala

Kini, sebagai anggota biasa, Mas Kholik memilih tetap terlibat. Bukan lagi di depan, tapi tetap di dalam.

Mengamati. Membantu. Sesekali memberi masukan.

Ia tidak lagi berbicara soal jabatan. Yang ia jaga justru keberlanjutan.

Karena bagi dia, Karang Taruna bukan soal siapa yang memimpin. Tapi apakah organisasi itu bisa tetap hidup.

Dan hidup, dalam versinya, bukan soal ramai sesaat.

Melainkan tentang api kecil yang terus dijaga dari satu kegiatan ke kegiatan lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di halaman rumah yang tenang itu, cerita tentang Karang Taruna ternyata tidak pernah benar-benar selesai.

Ia hanya berpindah tangan.

Dan terus berjalan.

Dalam waktu dekat, 3 Mei 2026 Karang Taruna setempat bersama Djarum melalui program “Coklat Kita” juga tengah mematangkan satu agenda besar yang dirancang sebagai ruang temu warga lintas generasi. Kegiatan ini rencananya digelar dalam format sehari penuh, dimulai sejak siang hingga malam hari, dengan rangkaian acara yang cukup beragam.

Beberapa di antaranya meliputi pentas seni tradisional, lomba-lomba masyarakat, penampilan musik lokal, serta kehadiran stand UMKM yang memberi ruang bagi pelaku usaha kecil untuk ikut meramaikan sekaligus mendapatkan manfaat ekonomi. Selain itu, kegiatan ini juga akan melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemuda, orang tua, hingga komunitas lokal.

Dari kolaborasi Karangtaruna dan Djarum ini diharapkan membuat kegiatan berjalan lebih tertata, sekaligus menjadi sarana belajar bagi pemuda dalam mengelola event berskala lebih besar.

Lebih dari sekadar hiburan, kegiatan ini dirancang sebagai bentuk penguatan kebersamaan sekaligus upaya menggerakkan potensi lokal. Harapannya, ke depan kegiatan serupa tidak hanya bergantung pada pihak luar, tetapi bisa menjadi inspirasi bagi desa untuk menghadirkan ruang-ruang publik yang hidup, inklusif, dan berkelanjutan melalui dukungan serta pendampingan yang lebih terarah.

Example 300250
Example 120x600