Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaCipariFeaturedPertanian

Dari Ladang ke Ketahanan Pangan: Panen Perdana Jagung di Desa Kunci dan Peran Anak Muda yang Menggerakkan Harapan

174
×

Dari Ladang ke Ketahanan Pangan: Panen Perdana Jagung di Desa Kunci dan Peran Anak Muda yang Menggerakkan Harapan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Pagi itu (18/4/2026), embun masih menempel di jagung-jagung yang siap dipanen. Di hamparan lahan Dusun Cikondang, Desa Kunci, Kecamatan Sidareja, Kabupaten Cilacap, belasan anak muda tampak sibuk memetik hasil kerja berbulan-bulan. Tawa ringan bercampur suara gesekan daun kering menjadi penanda: panen perdana akhirnya tiba.

Di tengah suasana sederhana itu, sebuah cerita tentang ketahanan pangan sedang ditulis—bukan di ruang rapat atau meja kebijakan, melainkan di tanah yang diolah dengan tangan sendiri.

Example 300x600

Kegiatan panen jagung ini digerakkan oleh Brigade Pangan Desa Kunci bersama Patriot Ketahanan Pangan PC Ansor Cilacap. Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar panen biasa. Namun bagi warga setempat, ini adalah langkah awal yang sarat makna.

Kepala Desa Kunci, Satrio Sakti Wibowo, melihat kegiatan ini sebagai titik penting kebangkitan sektor pertanian desa, terutama dengan melibatkan generasi muda.

“Program penanaman jagung yang hari ini sudah sampai pada tahap pemanenan tentu sangat membantu masyarakat, khususnya petani dan anak-anak muda yang mulai aktif bertani. Ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung program ketahanan pangan pemerintah,” ujarnya.

Menurut Satrio, langkah ini bukan tanpa proses. Awalnya, kelompok tani yang terbentuk difokuskan pada tanaman padi. Namun karena berbagai pertimbangan dan belum turunnya program yang direncanakan, mereka beralih ke jagung sebagai alternatif.

Keputusan itu ternyata tidak keliru. Panen perdana menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan.

“Ini merupakan panen pertama, dan hasilnya sangat baik. Ke depan, tentu akan terus kami kembangkan dengan dukungan dari berbagai pihak,” katanya.

Di balik keberhasilan ini, ada peran Brigade Tani yang baru berusia seumur jagung—secara harfiah. Ketua Brigade Tani, Rudianto, menyebut kelompoknya baru terbentuk sekitar delapan bulan lalu.

“Ini panen pertama kami, dengan luas lahan satu hektare. Ke depan, kami sudah menyiapkan pengembangan hingga tiga sampai empat hektare,” ujar Rudianto.

Ia bercerita, wilayah tersebut sebelumnya lebih dikenal sebagai sentra singkong. Jagung, dalam hal ini, menjadi semacam eksperimen—sekaligus peluang baru.

“Kebanyakan di sini dulu singkong. Kami yang mulai mencoba jagung, dan Alhamdulillah hasilnya cukup baik,” katanya.

Namun, jalan menuju panen tidak selalu mulus. Faktor alam menjadi tantangan yang tak bisa ditawar.

“Walaupun secara ilmu sudah cukup, tetap saja alam yang menentukan. Pengelolaan air juga penting. Kalau berlebihan, bisa menyebabkan busuk batang dan akar, apalagi untuk varietas Sumo yang kami tanam,” jelasnya.

Meski demikian, semangat kelompok tetap terjaga. Dengan sekitar 15 anggota, Brigade Tani mengandalkan kekompakan sebagai modal utama.

“Kunci keberhasilan itu sederhana: bekerja dan berdoa. Tapi yang paling penting, kekompakan. Kalau hanya mementingkan diri sendiri, tidak akan jalan,” kata Rudianto.

Di tengah geliat lokal ini, kehadiran pemangku kebijakan menjadi penopang yang tak kalah penting. Ketua Fraksi DPRD Kabupaten Cilacap dari Fraksi PKB, Saeful Musta’in, hadir langsung dalam kegiatan panen tersebut.

“Hari ini kami bersama teman-teman Patriot Ketahanan Pangan PC Ansor Cilacap dan Brigade Pangan Desa Kunci melaksanakan panen perdana jagung. Ansor saya kira menjadi bagian penting dalam program ketahanan pangan,” ujarnya.

Ia menegaskan dukungannya terhadap gerakan yang berbasis masyarakat seperti ini.

“Kami dari DPRD Kabupaten Cilacap, khususnya Fraksi PKB, mendukung penuh kegiatan ini,” kata Saeful.

Dalam konteks yang lebih luas, kehadiran legislator di tengah aktivitas warga seperti ini bukan sekadar simbolis. Ia menjadi jembatan antara kebutuhan di lapangan dengan kebijakan yang dirumuskan di tingkat daerah. Dukungan terhadap kelompok tani, penyediaan fasilitas, hingga keberpihakan anggaran menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan program semacam ini.

Apa yang terjadi di Desa Kunci menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak selalu lahir dari proyek besar berskala nasional. Ia bisa tumbuh dari inisiatif kecil, dari keberanian mencoba, dan dari kolaborasi antara warga, pemerintah desa, dan dukungan pemangku kebijakan.

Lebih dari itu, keterlibatan anak muda menjadi sinyal penting. Di tengah anggapan bahwa sektor pertanian semakin ditinggalkan generasi muda, apa yang dilakukan Brigade Tani justru menunjukkan sebaliknya: bahwa ladang masih menyimpan harapan, asalkan ada ruang dan dukungan.

Panen perdana ini mungkin hanya menghasilkan jagung dalam hitungan ton. Namun nilai yang dibawanya jauh lebih besar—tentang kepercayaan diri, tentang gotong royong, dan tentang keyakinan bahwa desa mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Ke depan, tantangannya tentu tidak ringan. Konsistensi, akses pasar, hingga stabilitas harga akan menjadi ujian berikutnya. Namun dengan fondasi yang telah dibangun—kekompakan kelompok, dukungan pemerintah desa, dan keterlibatan legislatif—harapan itu bukan sesuatu yang terlalu jauh.

Di ladang Desa Kunci, pagi itu, jagung-jagung dipanen satu per satu. Dan bersama itu, sebuah optimisme perlahan ikut dipetik.

Example 300250
Example 120x600