Malam itu udara di kawasan Banyumanik, Semarang, terasa sedikit lebih serius dari biasanya. Bukan karena cuaca yang tiba-tiba berubah atau karena kopi di meja panitia terlalu pahit. Tapi karena di dalam sebuah ruangan di kompleks Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Jawa Tengah, puluhan orang sedang mencoba memahami satu hal yang sering dianggap sepele tapi diam-diam menentukan masa depan politik: media sosial.
Acara itu adalah konsolidasi tim media dari Partai Kebangkitan Bangsa se-Jawa Tengah. Kalau dibayangkan secara sederhana, ini seperti reuni orang-orang yang sehari-hari hidupnya berkutat dengan konten, kamera HP, caption, dan tentu saja—algoritma yang sering berubah seperti mood mantan.
Di depan ruangan, beberapa narasumber duduk dengan gaya santai tapi penuh pengalaman. Ada influencer, ada musisi, ada juga analis politik. Kombinasi yang, kalau dipikir-pikir, cukup masuk akal. Karena zaman sekarang, politik, hiburan, dan media sosial sudah seperti tiga saudara yang sering ribut tapi tak bisa dipisahkan.
Dan dari obrolan malam itu, satu hal terasa jelas: media sosial bukan lagi sekadar tempat pamer kegiatan. Ia sudah berubah menjadi arena pertarungan persepsi.
Dari Zaman Wartawan Mengejar Narasumber sampai Zaman Konten Mengejar FYP
Salah satu yang membuka diskusi malam itu adalah Oki Agustina dari Solidarity Squad. Ia memulai ceritanya dengan nostalgia yang terasa agak jauh dari dunia TikTok hari ini.
Ia mengingat masa ketika dirinya menjadi wartawan pada tahun 1999. Masa ketika kata “algoritma” belum masuk kamus kehidupan wartawan.
“Dulu kalau jadi wartawan itu benar-benar harus mengejar narasumber,” katanya sambil tertawa kecil. “Sekarang? Mau cari berita tinggal lihat berita orang.”
Kalimat itu langsung mengundang senyum di beberapa kursi peserta. Karena jujur saja, fenomena “mengutip dari berita orang” memang sudah jadi rahasia umum di dunia digital.
Oki tidak menutup-nutupi hal itu. Ia justru menyoroti bagaimana kemudahan internet kadang membuat orang terlalu cepat meniru.
Menurutnya, tantangan terbesar membuat konten hari ini bukan lagi soal teknologi. Tapi keberanian untuk membuat sesuatu yang berbeda.
“Sekarang orang bikin konten seringnya lihat dulu. Oh ini bagus, ini FYP. Akhirnya ditiru,” ujarnya. “Padahal kalau bisa, kita bikin yang baru. Walaupun algoritmanya mungkin jalannya pelan.”
Ia mengaku kontennya sering dianggap agak nyeleneh. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Bukan karena sengaja ingin berbeda, tapi karena ia mencoba tetap natural.
Dan di dunia media sosial, naturalitas itu ternyata punya pasar sendiri.
Konten Keluarga, Komedi, dan Bahan Bulian
Kalau melihat akun media sosial Oki, satu tema memang cukup dominan: kehidupan keluarga.
Ia dikenal sebagai ibu dengan empat anak, dan konten tentang anak-anaknya ternyata sering mendapatkan engagement paling tinggi.
“Yang paling banyak itu biasanya tentang anak,” katanya.
Namun ada satu elemen lain yang tak kalah penting: komedi.
Terutama ketika ia tampil bersama Ali Sabat. Dalam beberapa konten mereka, Ali sering dijadikan “bahan bulian”.
Dan anehnya, penonton justru suka.
Karena mungkin, di tengah dunia digital yang sering terlalu serius atau terlalu dibuat-buat, melihat dua orang yang saling mengejek dengan santai terasa lebih jujur.
Ketika Followers Banyak Tapi Isi Kepala Kosong
Ali Sabat sendiri kemudian mengambil mikrofon. Ia memulai ceritanya dengan sebuah kisah pribadi yang cukup sederhana tapi menyentil.
Sebelum dikenal sebagai bagian dari band FiveMinutes, ia merasa seperti orang biasa yang nyaris tidak diperhatikan.
“Tapi ketika saya bergabung dengan FiveMinutes, follower langsung nambah,” ujarnya.
Ia lalu berhenti sejenak, seperti sedang menimbang kalimat berikutnya.
Menurut Ali, pengalaman itu memberinya satu pelajaran penting tentang dunia popularitas.
Popularitas tidak selalu sama dengan kualitas.
Ia bahkan menyampaikan kekhawatiran yang cukup serius tentang masa depan.
“Jangan sampai nanti kita punya pemimpin yang followersnya banyak, omongannya didengar, tapi isinya kosong.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada marah. Justru lebih seperti kegelisahan seseorang yang pernah merasakan kerasnya hidup.
Ali mengaku pernah hidup di jalan dan mengalami pahitnya kehidupan. Karena itu, ia merasa agak heran melihat tren konten hari ini yang sering terlalu ringan—atau bahkan kosong.
“Banyak konten yang receh, nggak ada isi. Bagi saya itu kemunduran,” katanya.
Konsistensi: Hal Paling Membosankan tapi Paling Penting
Dalam dunia media sosial, ada satu kata yang selalu diulang-ulang seperti mantra: konsistensi.
Oki juga mengakui hal itu.
Membangun akun dengan jutaan pengikut tidak terjadi dalam semalam. Ia bahkan menyebut naik-turun follower sebagai hal yang sangat normal.
“Ada yang follow, ada yang unfollow,” katanya santai.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga konten tetap positif. Jika ada konten yang terlalu negatif, ia lebih memilih tidak mengunggahnya.
Terutama di platform seperti TikTok, yang menurutnya sangat sensitif terhadap konsistensi.
Kalau terlalu lama tidak membuat konten, penurunan engagement hampir pasti terjadi.
Dan di situlah dilema para kreator: antara kehidupan nyata yang sibuk dan tuntutan algoritma yang tidak pernah tidur.
Politik, Personal Branding, dan Jalan Panjang Menuju Elektabilitas
Diskusi malam itu kemudian beralih ke ranah yang lebih strategis ketika Saeful Mujab dari Indekstat berbicara.
Ia mencoba menjelaskan bagaimana media sosial sebenarnya bekerja dalam dunia politik.
Menurutnya, ada tahapan yang hampir selalu terjadi dalam membangun figur politik:
dikenal – disukai – dipilih – dipercaya.
Popularitas menjadi pintu pertama.
Tanpa dikenal, seseorang hampir mustahil bisa dipilih.
“Orang nggak mungkin memilih kita kalau mereka nggak kenal kita,” katanya.
Karena itu, personal branding menjadi sangat penting. Bukan sekadar tampil di media sosial, tapi menampilkan karakter yang konsisten.
Ia juga menyinggung fenomena politisi yang lahir dari popularitas figur publik. Dalam beberapa kasus, partai politik memang memanfaatkan figur yang sudah punya basis penggemar.
Namun menurutnya, hal itu tetap harus diimbangi dengan kualitas konten.
Konten adalah Raja, Distribusi adalah Ratu
Salah satu kalimat yang cukup menarik malam itu adalah ketika Saeful mengatakan:
“Konten itu king, tapi distribusi itu queen.”
Artinya sederhana: konten yang bagus tidak akan berarti banyak jika tidak sampai ke audiens yang tepat.
Untungnya, teknologi hari ini menyediakan banyak alat untuk membantu distribusi.
Konten dari TikTok bisa dimirroring ke Instagram, lalu ke Facebook, bahkan ke YouTube.
Semua platform bisa saling terhubung.
Masalahnya bukan lagi soal alat. Tapi soal strategi.
Politik Tidak Harus Selalu Kaku
Satu kritik menarik yang muncul malam itu adalah tentang gaya komunikasi politik yang terlalu kaku.
Menurut Saeful, jika politik terus disampaikan dengan cara yang serius dan formal, kemungkinan besar orang tidak akan tertarik.
“Kalau politik terlalu kaku, nggak akan laku,” katanya.
Karena itu, konten politik sebaiknya dibawa lebih cair. Lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bisa lewat cerita, humor, atau bahkan komentar tentang isu populer seperti sepak bola.
Intinya bukan menghindari isu penting, tapi membungkusnya dengan cara yang lebih manusiawi.
Pertarungan yang Tidak Lagi di Lapangan
Menjelang akhir diskusi, suasana ruangan terasa sedikit lebih hening.
Mungkin karena satu kesimpulan mulai terasa jelas.
Saeful menyampaikan bahwa pertarungan politik hari ini tidak lagi hanya terjadi di lapangan.
Ia terjadi di layar ponsel.
“Kalau kita tidak bertempur di media sosial,” katanya, “mungkin kita sudah tertinggal sepuluh langkah.”
Kalimat itu terasa seperti pengingat yang cukup keras.
Karena bagi banyak politisi, media sosial masih dianggap sekadar pelengkap. Padahal bagi generasi baru pemilih, media sosial justru menjadi sumber informasi utama.
Ketika Konten dan Masa Depan Politik Bertemu
Malam semakin larut ketika diskusi akhirnya mendekati penutup. Para peserta mulai merapikan catatan, sebagian membuka ponsel, mungkin sudah memikirkan konten berikutnya.
Dan dari semua pembicaraan malam itu, satu hal terasa cukup ironis.
Di zaman ketika siapa pun bisa membuat konten dalam hitungan detik, justru isi konten menjadi hal yang paling langka.
Semua orang bisa viral.
Semua orang bisa terkenal.
Tapi tidak semua orang punya sesuatu yang benar-benar ingin disampaikan.
Dan mungkin, di situlah tantangan terbesar dunia media hari ini:
membuat konten yang tidak hanya ramai ditonton, tapi juga layak diingat.













