Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaEditorialFeaturedPolitik

Datang, Dengar, dan Diam-Diam Kagum: Catatan Penulis Dipluk dari Konsolidasi Tim Media PKB Jateng

54
×

Datang, Dengar, dan Diam-Diam Kagum: Catatan Penulis Dipluk dari Konsolidasi Tim Media PKB Jateng

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Saya datang ke acara itu dengan niat sederhana: meliput.

Bukan ikut konsolidasi.

Example 300x600

Bukan daftar jadi admin.

Apalagi jadi buzzer.

Sebagai Penulis yang kebetulan sering mengamati tingkah laku partai politik—dari yang terlalu serius sampai yang terlalu pencitraan—saya kira acara ini akan jadi forum yang penuh jargon: penguatan struktur, optimalisasi narasi, sinergi vertikal-horisontal, dan istilah-istilah lain yang biasanya bikin kepala cenat-cenut.

Ternyata saya salah.

Ini bukan cuma soal jargon. Ini soal keresahan.

Partai yang Tak Mau Lagi Jadi Penonton di Timeline

Di ruangan itu saya melihat satu kesadaran yang pelan-pelan tumbuh: mereka merasa tertinggal di ruang digital.

Bukan tertinggal kerja. Kerja mah jalan.

Yang tertinggal adalah kabarnya.

Beberapa pembicara menyebut fenomena yang sebenarnya sudah lama kita lihat: ada partai yang kalau ada bencana, dia yang paling cepat datang. Bawa mobil berlogo, keliling sebentar, dokumentasi, lalu dalam hitungan jam sudah viral.

Di grup WhatsApp keluarga, muncul.

Di Facebook bapak-bapak, muncul.

Di TikTok anak kos, muncul.

Sementara yang lain mungkin juga datang, mungkin juga membantu, tapi sunyi. Tanpa dokumentasi, tanpa distribusi, tanpa algoritma.

Dan di zaman sekarang, sunyi itu sama dengan tidak ada.

Sebagai Penulis, saya paham satu hal: publik tidak menilai niat. Publik menilai yang tampak.

“Sekecil Apa Pun Harus Dikabarkan”

Kalimat itu berulang kali saya dengar dalam forum.

Pelatihan? Kabarkan.

Dampingi DPRD? Kabarkan.

Dapat nasihat kiai? Kabarkan.

Awalnya saya agak nyengir. Wah, ini mau jadi mesin konten semua, nih?

Tapi setelah saya cerna, ada logikanya juga. Selama ini banyak kerja politik—terutama yang berbasis pesantren dan kultural—yang memang tidak terlalu gemar mempublikasikan diri. Ada semacam etika: kerja ya kerja, nggak usah rame-rame.

Masalahnya, dunia sudah berubah.

Yang rame sering kali lebih dipercaya daripada yang diam.

Dan dalam politik, persepsi itu separuh kemenangan.

Antara Etika dan Eksistensi

Yang menarik, forum ini tidak terdengar seperti instruksi untuk “halalkan segala cara demi viral”. Justru ada penegasan soal menjaga nilai dan kepantasan.

Mereka sadar, sebagai partai yang punya akar kuat di pesantren, ada batas moral yang tidak boleh diterabas. Tidak semua momen pantas dijadikan konten. Tidak semua musibah layak dijadikan panggung.

Tapi di sisi lain, mereka juga mulai menerima kenyataan bahwa kerja yang tidak dikabarkan akan tenggelam.

Di titik ini saya melihat dilema klasik partai berbasis kultural: menjaga martabat atau mengejar momentum.

Forum ini tampaknya sedang mencoba mencari titik tengahnya.

Politik Sudah Pindah ke Timeline

Buat saya pribadi, bagian paling jujur dari acara itu adalah ketika pembicara mengatakan bahwa publik sekarang hidup di timeline.

Bukan di ruang rapat.

Bukan di kantor DPC.

Bukan di baliho.

Kalau ingin dikenal, ya masuklah ke ruang yang mereka tempati.

Sebagai Penulis yang sehari-hari hidup dari klik dan share, saya tidak bisa menyangkal itu. Media mainstream saja sekarang ikut-ikutan logika algoritma. Apalagi partai politik.

Maka ketika mereka bicara soal tidak boleh tertinggal di media sosial dan media mainstream, saya melihatnya bukan sebagai ambisi berlebihan, tapi insting bertahan hidup.

Dari Kerja Sunyi ke Narasi Terbuka

Selama ini, banyak kerja politik berbasis kiai dan pesantren yang berjalan sunyi. Advokasi jalan. Bantuan jalan. Konsolidasi jalan. Tapi jarang terdengar gaungnya.

Ironisnya, publik sering lebih mengenal aksi simbolik yang dramatis ketimbang kerja substantif yang konsisten.

Acara ini seperti pengakuan jujur: kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan kerja sunyi.

Harus ada dokumentasi.

Harus ada publikasi.

Harus ada distribusi.

Bukan untuk pamer, tapi untuk memastikan cerita tidak ditulis sepihak oleh orang lain.

Saya Pulang dengan Catatan

Sebagai Penulis yang terbiasa sinis pada segala yang berbau “strategi komunikasi partai”, saya datang dengan ekspektasi rendah.

Tapi saya pulang dengan satu catatan penting: mereka sedang belajar.

Belajar bahwa politik hari ini bukan cuma soal ideologi dan struktur, tapi juga soal narasi dan distribusi.

Belajar bahwa kerja tanpa kabar itu berisiko hilang dari ingatan publik.

Belajar bahwa algoritma bisa lebih galak dari oposisi.

Apakah nanti praktiknya akan konsisten? Itu urusan lain. Politik selalu punya jarak antara wacana dan eksekusi.

Tapi setidaknya, hari itu, saya melihat satu hal yang jarang saya temui: kesadaran kolektif untuk berubah.

Dan di tengah politik yang sering hanya sibuk berebut panggung, kesadaran untuk berbenah—walaupun terlambat—adalah sesuatu yang layak dicatat.

Minimal, di buku reporter yang diam-diam ikut mengangguk di barisan belakang.

 

Example 300250
Example 120x600