Cilacap – Sore itu di Desa Bulaksari, udara Kecamatan Bantarsari, Cilacap, terasa lebih lembap dari biasanya. Di sebuah rumah sederhana, seorang pria berdiri terpaku, menatap wajah renta seorang wanita berusia 85 tahun yang selama 32 tahun hanya muncul dalam potongan mimpi buruk dan samar ingatan masa kecil.
“Aku pulang, Bu,” ucapnya lirih. Kalimat sederhana itu menjadi penutup dari pengembaraan panjang Zainuddin, bocah kelas 1 SD yang menghilang sejak tahun 1993.
Menyadur informasi yang pertama kali mencuat di laman Tribun Jateng, kisah Zainuddin ini bermula dari kenekatan seorang anak berusia tujuh tahun yang menaiki kereta api tanpa tujuan.
Pelarian yang Mengubah Takdir
Semuanya bermula dari rasa takut. Zainuddin kecil, yang kala itu dikenal sebagai anak yang cukup bandel, sering mendapat teguran keras dari orang tuanya. Suatu senja di waktu Magrib, amarah orang tua membuatnya nekat lari dari rumah menuju rel kereta api yang melintasi desanya.
Tanpa membawa apa pun, ia melihat sebuah kereta api sedang berhenti. Tanpa pikir panjang, bocah itu melompat naik. Kereta bergerak menjauh, membelah malam, membawa Zainuddin meninggalkan tanah kelahirannya menuju ketidaktahuan yang absolut.
Ia sempat turun di sebuah stasiun asing, namun rasa takut akan kegelapan membuatnya kembali naik lagi ke kereta. Keesokan paginya, ia terbangun di tengah hiruk-pikuk Stasiun Jakarta Kota. Di sanalah, hidupnya sebagai pengelana dimulai.
Bertahan Hidup di Kerasnya Ibu Kota
Jakarta tidak ramah bagi bocah tujuh tahun, apalagi sendirian. Selama sepekan awal, Zainuddin terlantar dan harus mengemis di lampu merah demi sesuap nasi. Ia bahkan mengenang momen getir saat harus memakan ikan pemberian orang yang sudah hampir basi demi bertahan dari rasa lapar yang mencekik.
Karena ketidaktahuan identitasnya. Setiap kali ditanya asal-usulnya, ia hanya bisa menggeleng. Ia tumbuh besar di panti asuhan dan sempat menetap di Bekasi, menjalani hidup dengan identitas yang samar, bahkan sempat mengira dirinya berasal dari Semarang.
Meski hidupnya perlahan mapan dan kini bekerja di perusahaan ekspedisi di Bekasi, kerinduan pada keluarga tak pernah padam. Upaya pencarian dilakukan lewat koran, majalah, hingga siaran radio RRI, namun hasilnya selalu nihil selama puluhan tahun.
Denah Ingatan dan Keajaiban Teknologi
Titik terang muncul pada tahun 2018 ketika Zainuddin mencoba menggambar denah lingkungan rumah masa kecilnya berdasarkan sisa-sisa ingatan. Ia mengingat sebuah jembatan sungai dekat jalur kereta dan bangunan tua bekas loket. Gambar manual itu kemudian ia cocokkan dengan citra satelit di Google Maps.
Puncaknya terjadi pada 19 Desember 2025. Melalui unggahan narasi kronologi di media sosial TikTok yang kemudian viral, netizen bergerak serentak membantu melakukan validasi. Banyak yang mengarahkannya ke wilayah Maos dan Bantarsari, hingga akhirnya identitas aslinya terkuak di Dusun Jakatawa, Desa Bulaksari, Kecamatan Bantarsari, Kabupaten Cilacap.
Reuni di Atas Pusara dan Penantian Sang Ibu
Kepulangan Zainuddin pada 25 Desember 2025 menjadi kado akhir tahun yang paling emosional bagi keluarganya. Namun, kegembiraan itu berbalut duka, ayahnya telah lama berpulang, begitu pula dengan empat dari tujuh saudaranya yang telah wafat selama ia menghilang.
Bagi sang ibu yang kini sudah senja, kepulangan putra kecilnya adalah jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan selama lebih dari tiga dekade. Pertemuan itu pecah dalam tangis yang tak terbendung, sebuah pelukan hangat yang sempat mustahil terjadi.
Kini, Zainuddin tidak lagi merasa sebagai pria tanpa akar. Meski ia telah kembali ke Bekasi untuk bekerja, ia membawa serta ibunya untuk tinggal bersama sejenak. Baginya, perjalanan ini bukan sekadar pulang ke rumah, melainkan perjalanan menemukan kembali jati diri yang sempat hilang di telan bising roda kereta api 32 tahun silam.
Media Sosial sebagai Jembatan Kemanusiaan
Melihat fenomena ini, ada satu pelajaran penting yang bisa kita petik. Bahwa seringkali kita melihat sisi bising dari media sosial, namun perjalanan Zainuddin mengingatkan kita, bahwa di tangan yang tepat, teknologi bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jalan pulang bagi mereka yang tersesat.



















