Sidareja, Cilacap – Topi koboi itu masih setia bertengger, menaungi rambut panjang yang menjadi sisa identitas masa lalunya. Di pinggir jalan perbukitan Desa Kunci, Kecamatan Sidareja, Rudiarto duduk menikmati cuaca cerah yang menyengat. Pria berusia 40 tahun ini bukan lagi pemuda yang menghabiskan malam di panggung remang-remang, melainkan sosok petani yang kini bertekad menjaga kedaulatan pangan desa.
Dulu Dia dikenal dengan sapaan Rudi Leste oleh komunitas reggae Cilacap Barat, perjalanan hidupnya merupakan arus balik yang drastis. Ia sempat mencicipi getirnya kehidupan jalanan yang kerap beririsan dengan stigma kelam. Masa-masa sulit tersebut hampir merenggut kesehatan mentalnya sebelum sebuah titik balik spiritual datang menghampiri melalui kesadaran yang menyentak batin.
“Pernah suatu ketika saya berada di titik akan gila, sampai tidak sadar saya menangis. Dalam tangisan itu seolah-olah ada bisikan supaya saya belajar agama,” kenang Rudi dengan nada rendah.
Menepis Prasangka di Balik Gerbang Pesantren
Dorongan mencari ketenangan membawa langkahnya menuju Pondok Pesantren Metal Tobat Sunan Kalijaga di Kecamatan Gandrungmangu. Keputusan nyantri ini menjadi paradoks bagi pribadinya yang lama. Sebelum mengenal dunia pesantren, ia menyimpan kecurigaan mendalam terhadap institusi keagamaan dan para pemimpinnya.
“Dulu saya menganggap kiai itu calo agama,” celetuknya seraya tertawa kecil, menyiratkan penyesalan mendalam atas anggapan miringnya di masa silam.
Transformasi itu memakan waktu hampir sewindu. Selama delapan tahun, Rudi menempa diri di pesantren hingga akhirnya sang pengasuh memintanya untuk membina rumah tangga. Kini, bapak satu anak ini menyandang nama santri Muhammad Yusfi Khanafi, meski penampilan luar khas senimannya tetap ia pertahankan sebagai bagian dari karakter diri yang jujur.
Mencangkul Ketenangan di Tanah Desa Kunci
Awal persentuhan Rudi dengan dunia agraris bermula pada tahun ketiga masa mondok. Sambil menyesap kopi dan rokok Djarum Super, ia mengisahkan bagaimana keleluasaan yang diberikan pengasuh pesantren justru memicu kreativitasnya. Ia memilih pertanian sebagai sarana untuk menyokong kebutuhan hidupnya selama menimba ilmu agama.
“Dalam suatu forum kajian saya pernah dengar begini: ‘Kalau ingin kaya maka berdagang, kalau ingin ketenangan hidup maka bertani’. Saya pengin tenang, jadi lanjut bertani,” ungkap Rudi.
Pilihan tersebut terbukti konsisten hingga ia kembali bermukim di tengah masyarakat. Pertanian bukan sekadar cara menyambung hidup, melainkan terapi yang menyelaraskan batinnya dengan alam. Ia merasa tidak lagi bingung menentukan arah hidup setelah menemukan kedamaian di atas tanah yang ia garap sendiri.
Nakhoda Muda Brigade Pangan
Eksistensi Rudi kini melampaui sekadar mengolah lahan pribadi. Perannya meluas sejak dipercaya menjabat Ketua Kelompok Brigade Pangan di Desa Kunci. Ia mengomandoi 13 petani muda untuk menggarap lahan seluas satu hektare yang kini mulai menghijau oleh tanaman jagung.

Darah seninya tidak benar-benar kering meski tangannya kini akrab dengan cangkul. Di sela aktivitas pertanian, ia masih memimpin grup musik “Solmet” atau Sholawat Metal Tobat sebagai bentuk ekspresi spiritual. Kegiatan ini berjalan beriringan dengan tugasnya memotivasi generasi muda bahwa sektor pertanian memiliki daya tarik yang besar sebagaimana terekam dalam perjalanan hidupnya.
Saat matahari tepat berada di atas kepala, suara azan mulai bersahutan dari kejauhan. Obrolan berakhir ketika panggilan ibadah itu tiba, menandai rutinitas baru seorang mantan praktisi musik yang kini memilih berbakti pada bumi. Keberhasilan Rudi beradaptasi menunjukkan bahwa pergeseran profesi seringkali menjadi jembatan bagi seseorang untuk menemukan makna hidup yang lebih penting.



















