CILACAP – Matahari pagi bersinar cerah di atas Pendopo Wijayakusuma Cakti, Senin (5/1/2026). Sisa-sisa embun masih terasa saat apel perdana tahun ini. Di tengah suasana yang masih formal namun hangat itu, Bupati Cilacap, Syamsul Auliya Rachman, berdiri dengan raut wajah optimis.
Di sanalah, sebuah kabar baik yang ditunggu-tunggu ribuan warga akhirnya meluncur. Bukan sekadar evaluasi kerja, Bupati Syamsul membawa “kado” nyata bagi garda terdepan pelayanan masyarakat yakni kenaikan honor RT/RW dan kepastian insentif guru ngaji.
Menghargai Lelah di Garis Depan
Merujuk pada pemberitaan jurnalis Guruh Yuda dari Bercahaya FM, Syamsul menjelaskan komitmennya untuk memperkuat kesejahteraan dari tingkat bawah. Bagi pemerintah daerah, beban kerja Ketua RT dan RW saat ini tak bisa lagi dipandang sebelah mata, terutama dalam validasi data kemiskinan yang kian kompleks.
“Honor RT/RW meningkat,” ucapnya mantap. Kebijakan ini bukan sekadar janji, melainkan eksekusi dari rencana matang sejak akhir 2025.
Berdasarkan struktur anggaran yang baru, insentif operasional yang semula Rp100 ribu per bulan, kini diproyeksikan melonjak menjadi Rp200 ribu. Angka ini akan menyapa sekitar 10.535 Ketua RT dan 2.335 Ketua RW yang tersebar dari pesisir hingga pegunungan di wilayah Cilacap.
Senyum untuk Para Pendidik Karakter
Tak hanya bicara soal perangkat lingkungan, nada bicara Bupati melunak penuh apresiasi saat membahas nasib para tenaga pendidik keagamaan. Di tahun 2026 ini, cakupan penerima insentif diperluas. Jika sebelumnya hanya menyentuh guru TPQ dan Madin, kini guru madrasah swasta pun turut mendapatkan alokasi khusus sebesar Rp100 ribu.
“Guru swasta kemarin kita juga ada (insentif) Rp100 ribu demi guru madrasah. Insentif itu ada kita berikan di 2026,” tambahnya di sela-sela obrolan.
Langkah ini seolah menjadi jawaban atas pendataan yang telah dilakukan intensif sejak pertengahan tahun lalu. Tujuannya satu, memastikan para guru ngaji bisa mengajar dengan tenang tanpa harus terlalu mencemaskan dapur rumah tangga.
Perlindungan yang Tak Kasat Mata
Suasana percakapan semakin mendalam saat membahas jaminan sosial. Bagi Syamsul, kesejahteraan bukan hanya soal nominal uang di tangan, tapi juga rasa aman saat bekerja. Lewat inovasi “Koentji Sosial”, para pekerja rentan seperti Imam Masjid, Marbot, hingga anggota Linmas kini dipastikan memiliki perlindungan BPJS Ketenagakerjaan.
Sebelum beranjak mengakhiri, Bupati juga menitipkan pesan penting soal biaya pendidikan. Optimalisasi dana BOSDA di tahun ini diharapkan menjadi solusi bagi sekolah agar tidak lagi membebani wali murid dengan iuran tambahan untuk menggaji guru honorer.
Kebijakan ini meninggalkan harapan besar. Di tahun 2026, Cilacap mencoba membuktikan bahwa perubahan besar seringkali dimulai dari hal-hal kecil di tingkat RT dan sentuhan hangat kepada para guru ngaji.



















