Tinggarjaya, Sidareja — Di sebuah rumah sederhana di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Sidareja, aroma gurih peyek terus menguar hingga larut malam. Di balik dapur produksi itu, ada kisah tentang air mata yang berubah menjadi semangat, tentang duka yang menjelma jadi berkah.
Mba Yunita, perempuan tangguh asal desa ini, tak pernah menyangka bahwa iseng kecil di dapur akan mengubah hidupnya sepenuhnya. Kamis malam (14/2/2026), dalam acara reses Ketua Fraksi PKB DPRD Kab Cilacap, Saiful Musta’in yang berlangsung di kediaman sang dewan, Mba Yunita membagikan kisahnya yang menggetarkan hati puluhan peserta yang hadir.
Saat Duka Membawa ke Dapur
Awal-awal membangun usaha, Mba Yunita masih bekerja sebagai buruh pabrik di Taklang bersama suaminya. Hari-harinya diisi dengan rutinitas pabrik yang itu-itu saja. Tak pernah terbersit sedikit pun niat untuk berwirausaha.
Semuanya berubah saat duka menghampiri. Mertua dan ibunya berpulang dalam waktu yang berdekatan.
“Saya setiap hari cuma bisa nangis,” kenang Mba Yunita, suaranya bergetar.
Di tengah kesedihan yang mendalam, tiba-tiba ia dilanda kerinduan pada masakan ibunya. Malam itu, tanpa rencana, ia masuk dapur. Membuat peyek, makanan khas yang dulu selalu hadir di meja makan keluarganya.
“Saya iseng, malam itu proses pembuatannya saya posting di media sosial,” ceritanya.
Tak disangka, respons langsung datang. Puluhan pesanan masuk malam itu juga. 50, 100 bungkus langsung ludes dipesan.
Malam-Malam Penuh Perjuangan
Sejak malam itu, dapur kecilnya tak pernah sepi. Sepulang kerja pabrik, habis Maghrib hingga larut malam, Mba Yunita dan suaminya bergelut dengan wajan dan adonan peyek.
“Setiap malam saya posting lagi proses bikinnya, selalu ada respons baik. 100 bungkus, 100 bungkus lagi keluar,” ujarnya.
Fenomena itu berlangsung selama tiga bulan. Setiap hari selalu ada pesanan. Tanpa modal besar, tanpa strategi pemasaran rumit, hanya bermodal keuletan dan keikhlasan.
Dari Mulut ke Mulut di Pabrik
Keberuntungan berpihak. Ribuan karyawan di pabrik tempatnya bekerja menjadi pasar potensial. Sistem promosi dari mulut ke mulut bekerja efektif.
“Karena saya di pabrik saya tawarkan kepada teman-teman pabrik, setelah mereka beli, mereka akan merasakan dan secara tidak langsung mempromosikan kepada teman pabrik yang lain untuk membeli produk saya,” jelasnya.
Setelah tiga bulan bertahan dengan tenaga sendiri, Mba Yunita memberanikan diri menambah satu karyawan. Tak berhenti di situ, sepulang kerja ia mulai memasuki warung-warung.
Air Mata di Balik Warung
Namun, perjalanan tak selalu mulus. Saat pertama kali menawarkan ke warung-warung, respons sinis kerap diterimanya.
“Ah, peyek mah peyek aja,” celetuk seorang pemilik warung.
Ada juga yang meremehkan soal harga, “Ah gampang bikinnya, kok mahal?”
Setiap kali hendak masuk ke warung, Mba Yunita mengaku sering menangis. Rasa minder dan takut ditolak menjadi santapan.
Tapi ia tak menyerah. Perlahan, setelah pemilik warung mencicipi, mereka berbalik memesan. Kualitas berbicara lebih keras dari sekadar kata-kata.
Berkembang Pesat, Tembus Pasar Luar Negeri
Kini, duka dan tangis telah berlalu. Produk “Dipeyekin Mawon” Mba Yunita telah merambah lebih dari 300 titik lokasi penjualan. Suaminya yang bekerja di bagian ekspedisi membantu memperluas jaringan distribusi melalui relasi dengan para driver.
Pengiriman produk telah menjangkau berbagai pulau. Denpasar Bali, Semarang, Bandung, hingga beberapa kali tembus ke luar negeri menjadi pasar yang telah direbut.
“Alhamdulillah, sekarang ada 4 karyawan yang membantu produksi setiap hari,” ungkapnya bangga.
Untuk wilayah Cilacap kota, produknya didistribusikan melalui sistem dropship. Teman-teman yang ikut memasarkan kemudian memasukkan ke warung-warung. Di Cipari, produknya hadir di berbagai lokasi seperti Prumpung, Alexa, milik Mba Via, dan Toko Ibu Suliati.
Inovasi Mocaf yang Mengubah Segalanya
Terobosan besar terjadi saat Mba Yunita mendapat saran untuk mengurus perizinan dan mulai berpartisipasi di event-event. Ia menambahkan tepung mocaf (modified cassava flour) dalam pembuatan produknya yang ia beli dari Bu Lurah Tasmini, istri kades Karangreja.
Penggunaan mocaf ternyata membawa perubahan signifikan. Mba Yunita menjelaskan perbedaannya saat mencoba menggoreng daun bayam.
“Tanpa mocaf, setelah digoreng selalu meninggalkan minyak di bungkusnya setelah didiamkan selama 2-3 jam. Setelah pakai mocaf, minyak tidak ada yang tertinggal, peyek lebih renyah dan gurih,” terangnya.
Saran Berharga: Produk Dulu, Kemasan Kemudian
Salah satu strategi jitu Mba Yunita adalah menjual produk lebih dulu sebelum memikirkan kemasan mewah.
“Kalau untuk pemasaran awal, jual produk dulu biar mereka merasakan makanan kita,” sarannya.
Kini ia memiliki berbagai varian kemasan, disesuaikan dengan kebutuhan distribusi—untuk warung biasa hingga toko besar. Harga pun bervariasi mengikuti jenis kemasan.
Pemasaran awalnya sempat menggunakan live TikTok, namun kini lebih fokus pada WhatsApp dan Facebook atas pertimbangan efisiensi waktu produksi.
Momen Reses: Hadiah Mesin Press dari Pak Dewan
Dalam acara reses yang dihadiri puluhan warga itu, Mba Yunita menyampaikan kebutuhan mendesak usahanya.
“Untuk usaha saya belum ada campur tangan bantuan dari siapapun, murni dari saya sendiri. Mbok Bapak Saiful Musta’in mau ngasih, saya butuh alat press, soalnya setiap hari bisa 300 bungkus, dan juga saya juga butuh tempat bumbu produksi,” ujarnya polos.
Tanpa basa-basi, Saiful Musta’in, anggota DPRD yang juga tuan rumah, langsung merespons positif. Ia langsung memberikan alat mesin press untuk membantu produksi “Dipeyekin Mawon”.
Pak Saiful juga memberikan masukan agar penjualan merambah platform e-commerce dan mengajak peserta reses lainnya untuk turut memasarkan produk.
“Silakan yang mau ikut menjual, ini produk lokal yang sudah terbukti kualitasnya,” ajaknya.
Inspirasi dari Dapur Sederhana
Kisah Mba Yunita membuktikan bahwa dari dapur sederhana, di tengah duka yang mendalam, bisa lahir usaha yang menghidupi banyak orang. Bahwa air mata yang jatuh, bisa berubah menjadi senyum manis dari ratusan titik distribusi.
Sekarang, ketika malam tiba dan aroma peyek kembali menguar dari dapur Mba Yunita di Tinggarjaya, itu bukan lagi sekadar aroma makanan. Itu adalah aroma semangat, aroma perjuangan, aroma mimpi yang dirajut dengan sabar hingga tembus ke luar pulau, bahkan ke luar negeri.


















