CILACAP – Ada banyak cara untuk memantik geliat ekonomi kreatif di Cilacap, dan Saiful Musta’in punya cara yang terbilang unik. Anggota DPRD Kabupaten Cilacap dari Fraksi PKB ini menggelar kuis berhadiah kaos eksklusif “Pulek Karangreja” untuk mengajak masyarakat merayakan karya seni lokal.
Lewat Rumah Aspirasi Griya Akar Rumput, Saiful bersama tim kreatifnya merilis syair lagu bertema alam dan kehidupan desa. Menariknya, masyarakat tidak cuma diajak mendengarkan, tapi ditantang untuk menebak dan memberikan judul terbaik bagi lagu tersebut.
Bagi Saiful, langkah kecil ini adalah ikhtiar merawat ekosistem kreatif lokal yang melibatkan musisi, desainer, pelaku usaha sablon, hingga kreator konten.
“Ekonomi kreatif itu tak selalu harus dimulai dari acara besar. Lagu, desain kaos, konten media sosial, sampai cerita tentang desa pun bisa punya nilai ekonomi kalau digarap bareng-bareng,” tutur Saiful.
Menatap Karangreja Lewat Nada
Lagu garapan Tim Griya Akar Rumput ini memotret kehangatan pagi di perbukitan Karangreja. Tak sekadar menjual panorama, liriknya menyelipkan pesan mendalam tentang menjaga alam.
Bait pertamanya dibuka dengan gambaran pohon tua yang kokoh di balik kabut pagi—simbol keteguhan alam yang menopang kehidupan. Perlahan, bait kedua membawa suasana yang lebih hangat: keheningan pagi berganti riuh warga, wisatawan, dan para pemburu sunrise.
Puncaknya ada di bait ketiga, saat cahaya matahari menyinari perbukitan Karangreja, memperlihatkan potensi wisata yang bisa menghidupkan ekonomi warga. Lagu ini lalu ditutup dengan ingatan hangat bahwa sejauh apa pun desa membangun, keseimbangan alam tetap yang utama.
Merchandise Lokal Bergaya Distro
Peserta dengan usulan judul terbaik bakal membawa pulang kaos eksklusif “Pulek Karangreja”. Mengusung desain khas distro, kaos ini diharapkan tak sekadar jadi hadiah, tapi juga ikon produk kreatif yang makin mengenalkan Karangreja ke khalayak luas.
Saiful berharap aksi sederhana ini bisa menularkan semangat berkarya bagi anak-anak muda Cilacap.
“Musik, desain, fotografi, fesyen, sampai kuliner itu bagian dari ekonomi kreatif. Kalau semuanya bergerak serentak, desa tak cuma punya identitas kuat, tapi juga peluang ekonomi baru,” pungkasnya.
Opsi 2: Gaya Storytelling / Feature (Lebih Hangat & Naratif)
Cocok untuk majalah, blog, atau media sosial yang menyukai gaya bahasa santai dan mengalir.
Lewat Lagu dan Kaos Distro, Saiful Musta’in Ajak Warga Cilacap Hidupkan Ekonomi Kreatif Desa
CILACAP – Sebuah lagu tak pernah cuma tentang nada dan lirik. Di tangan Saiful Musta’in, Anggota DPRD Cilacap Fraksi PKB, sebuah lagu bisa jadi ruang kumpul ide sekaligus penggerak roda ekonomi warga.
Melalui Rumah Aspirasi Griya Akar Rumput, Saiful membagikan sebuah syair lagu yang terinspirasi dari magisnya perbukitan Karangreja di pagi hari. Namun, ada satu hal yang kurang: lagu tersebut belum memiliki judul. Di sinilah warga diajak terlibat lewat kuis kreatif untuk menyumbang judul terbaik.
Bagi Saiful, kegiatan ini adalah cara sederhana merajut kerja sama antar-pelaku kreatif. Penulis lagu, desainer grafis, tukang sablon lokal, hingga kreator konten punya porsi masing-masing untuk saling mendukung.
“Ekonomi kreatif itu luas. Mulai dari lagu, desain t-shirt, hingga cerita sederhana tentang desa—kalau dikemas menarik, semua punya nilai jual,” ujar Saiful.
Cerita Perbukitan Karangreja dalam Syair
Lagu ini berkisah tentang lanskap Karangreja. Dibuka dengan cerita pohon tua di balik kabut tebal, liriknya perlahan bergerak menggambarkan riuhnya suasana saat para pemburu matahari terbit mulai berdatangan.
Lewat pendar cahaya pagi yang menyinari bukit, lirik lagu ini menegaskan bahwa keindahan alam Karangreja adalah aset berharga bagi pariwisata desa. Di bagian akhir, liriknya kembali mengingatkan bahwa pembangunan desa harus berjalan selaras dengan kelestarian alam.
Pemenang kuis dengan usulan judul paling pas bakal mendapatkan kaos eksklusif “Pulek Karangreja” yang didesain ciamik ala brand distro lokal.
Saiful berharap pemuda Cilacap makin berani berkarya di berbagai bidang—baik musik, fesyen, fotografi, maupun kuliner. Menurutnya, ketika karya lokal diapresiasi, desa akan tumbuh dengan identitas yang kuat dan ekonomi yang mandiri.



















