Sidareja, Cilacap – Sepetak lahan milik PT KAI di Desa Kunci, Kecamatan Sidareja, Kabupaten Cilacap, menjadi saksi bisu transformasi seorang pemuda bernama Hasbulloh. Pria kelahiran 1991 ini bukan sekadar petani biasa; ia adalah sarjana komputer yang memilih jalan hidup di atas tanah sewaan milik PT KAI seluas 200 meter. Baginya, tanah adalah masa depan yang lebih pasti ketimbang beton proyek di perantauan.
Keputusan Bulloh, sapaan akrabnya, untuk tidak merantau ke kota bukan tanpa alasan. Pengalaman pahit saat bekerja diperantauan meninggalkan kesan mendalam. Di sana, ia merasa batinnya gersang karena menghadapi lingkungan yang penuh godaan. Tekanan batin tersebut akhirnya menuntun langkah untuk tetap di kampung halaman berjibaku dalam dunia pertanian.
Warisan Ilmu dari Pesantren
Keahlian Bulloh dalam bertani tidak muncul secara instan. Benih keterampilan tersebut justru tertanam kuat saat ia masih mengenyam pendidikan di salah satu pesantren di Nganjuk. Selama bertahun-tahun nyantri, ia kerap dipercaya mengurus kebun milik pesantren. Pengalaman itulah yang kemudian ia duplikasi di lahan seluas 200 meter persegi yang disewa dari perusahaan kereta api.
Ia menerapkan sistem tumpang sari yang efisien untuk memaksimalkan lahan terbatas. Bulloh menanam 500 pohon pepaya dan 1.000 pohon cabai secara bersamaan. Strategi ini memungkinkan dirinya memanen cabai terlebih dahulu sembari menunggu pohon pepaya tumbuh besar dan siap dipetik hasilnya.

“Saya mulai menanam cabai sejak tahun 2014 karena ingin mempraktikkan langsung ilmu pertanian yang dulu didapat sewaktu di pesantren,” tutur Bulloh saat berbincang mengenai awal mula usahanya.
Keteguhan di Tengah Fluktuasi Harga
Dunia pertanian memang identik dengan ketidakpastian harga, namun Bulloh sudah kebal dengan dinamika tersebut. Ia pernah merasakan pahitnya harga cabai di angka Rp10.000 per kilogram, hingga manisnya harga mencapai Rp100.000 per kilogram. Baginya, fluktuasi ini adalah seni dalam berwirausaha sektor pertanian.
Untuk menjaga stabilitas penghasilan, ia mengatur pola tanam secara berjenjang. Dengan cara ini, selalu ada tanaman yang siap dipanen sementara bibit baru mulai tumbuh. Melalui ketekunan ini, Bulloh mampu membiayai kebutuhan hidup bahkan menyelesaikan studi hingga menyandang gelar Sarjana Komputer dari sebuah universitas swasta di Cilacap. Selain fokus pada hortikultura, ia juga memperluas lini usahanya dengan mengelola tujuh kolam ikan sistem bioflok dan menanam jagung di komunitas Brigade Pangan.
“Bertani itu sebenarnya bisa menjamin kesuksesan dan menghidupi keluarga asalkan kita konsisten menjalaninya,” ungkap anggota Brigade Pangan ini dengan nada yakin.
Pemberdayaan Pemuda dan Pengabdian Sosial
Kesibukan Bulloh kini tidak hanya berputar di kebun. Sebagai kader aktif Ansor Banser NU, ia kerap menjalankan tugas organisasi yang menyita waktu. Namun, hal ini justru membuka peluang kerja bagi pemuda di desanya. Ia mempekerjakan dua orang pemuda untuk merawat kebun dengan upah masing-masing Rp800.000 per bulan untuk jam kerja singkat dari pagi hingga pukul sepuluh siang.
Langkah ini diambil karena ia prihatin melihat anak muda yang hanya menghabiskan waktu dengan ponsel tanpa kegiatan produktif. Kini, dengan bantuan tenaga kerja tersebut, roda ekonomi di atas lahan sewaan PT KAI itu tetap berputar meski pemiliknya sedang bertugas di lapangan sebagai benteng ulama.
Keberhasilan Bulloh membuktikan bahwa keberkahan seringkali berada di dekat tempat tinggal kita sendiri. Ketekunan mengolah lahan bukan sekadar urusan perut, melainkan bentuk kedaulatan diri dalam menjaga prinsip hidup dan spiritualitas yang selama ini ia pelajari di balik dinding pesantren.
Berbekal pengalaman di lahan 200 ubin, mampukah Bulloh beserta rekan Brigade Pangan menjawab tantangan yang lebih besar? Ujian sesungguhnya adalah membuktikan bahwa sinergi mereka tetap sanggup meraih hasil maksimal meski skala garapannya ditingkatkan berkali-kali lipat.



















