Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaCipariPertanian

Jagung, Anak Muda, dan Politik yang Turun ke Sawah

86
×

Jagung, Anak Muda, dan Politik yang Turun ke Sawah

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Di banyak tempat, cerita tentang pertanian sering berakhir pada keluhan: harga yang jatuh, pupuk yang mahal, dan generasi muda yang enggan turun ke sawah. Namun di Desa Kunci, Kecamatan Sidareja, Kabupaten Cilacap, narasi itu mencoba dibalik—pelan, tapi nyata.

Panen perdana jagung yang dilakukan Brigade Pangan bersama Patriot Ketahanan Pangan PC Ansor Cilacap bukan sekadar kegiatan musiman. Ia lebih menyerupai eksperimen sosial: bagaimana jika anak muda diberi ruang, kepercayaan, dan sedikit dukungan—apakah mereka mau kembali ke tanah?

Example 300x600

Jawaban sementara: ya.

Di lahan satu hektare itu, sekitar 15 orang anggota Brigade Tani bekerja bukan hanya untuk memanen jagung, tetapi juga memanen keyakinan baru bahwa bertani masih relevan. Ketua Brigade Tani, Rudianto, bahkan dengan sederhana merumuskan filosofi mereka: bekerja dan berdoa. Klise, mungkin. Tapi justru di situlah kekuatannya—sederhana, membumi, dan dijalankan.

Yang menarik, pilihan jagung bukan tanpa konteks. Wilayah ini sebelumnya lebih akrab dengan singkong. Pergeseran ke jagung menunjukkan keberanian untuk mencoba komoditas baru, meski dengan risiko. Apalagi, seperti diakui Rudianto, tantangan terbesar tetap datang dari faktor yang tak bisa dinegosiasikan: alam.

Di titik ini, cerita Desa Kunci menjadi lebih dari sekadar panen. Ia menyentuh persoalan klasik pembangunan desa: keberanian berinovasi di tengah keterbatasan.

Kepala Desa Kunci, Satrio Sakti Wibowo, menyebut bahwa program ini tidak hanya berdampak pada produksi, tetapi juga pada keterlibatan generasi muda. Pernyataan ini penting. Sebab krisis pertanian hari ini bukan hanya soal lahan atau hasil, melainkan soal regenerasi.

Selama ini, banyak program pertanian berhenti di distribusi bantuan—alat, bibit, atau subsidi. Tapi tanpa regenerasi pelaku, semua itu hanya menjadi solusi jangka pendek. Apa yang terjadi di Desa Kunci menunjukkan pendekatan yang berbeda: membangun komunitas terlebih dahulu, baru kemudian memperkuatnya dengan program.

Di sinilah peran aktor di luar desa menjadi krusial.

Kehadiran Ketua Fraksi DPRD Kabupaten Cilacap dari Fraksi PKB, Saeful Musta’in, dalam panen perdana ini bisa dibaca lebih dari sekadar kunjungan seremonial. Dalam konteks yang tepat, kehadiran seperti ini adalah sinyal bahwa ada perhatian dari level kebijakan terhadap gerakan akar rumput.

Dukungan politik, jika dijalankan dengan benar, bukan soal panggung atau pencitraan. Ia tentang memastikan bahwa inisiatif seperti Brigade Pangan tidak berhenti di panen pertama. Bahwa ada keberlanjutan—dalam bentuk akses alat, pendampingan, hingga kebijakan yang berpihak.

Saeful sendiri menegaskan dukungannya terhadap program ketahanan pangan yang digerakkan Ansor dan Brigade Pangan. Pernyataan ini menjadi penting jika diikuti dengan langkah konkret: mendorong anggaran, memperkuat akses petani, dan menjaga stabilitas ekosistem pertanian lokal.

Namun, ada satu hal yang tak boleh diabaikan: keberhasilan seperti ini sangat rapuh jika berdiri sendiri.

Bayangkan jika pemangku kepentingan memilih abai. Jika dukungan hanya berhenti pada seremoni, tanpa tindak lanjut yang nyata. Maka panen perdana ini bisa berubah menjadi panen terakhir—atau sekadar catatan singkat yang terlupakan.

Tanpa dukungan kebijakan, kelompok tani akan kembali berhadapan sendirian dengan fluktuasi harga, keterbatasan alat, dan akses pasar yang sempit. Tanpa keberpihakan anggaran, semangat anak muda bisa perlahan luntur, tergantikan oleh realitas ekonomi yang lebih keras. Dan tanpa kesinambungan program, inovasi yang hari ini tumbuh bisa kembali ke titik awal: stagnasi.

Lebih jauh, ketahanan pangan tidak bisa hanya dibebankan pada semangat komunitas. Ia membutuhkan ekosistem: kebijakan yang konsisten, pendampingan yang berkelanjutan, dan keberanian politik untuk berpihak.

Apa yang terjadi di Desa Kunci memperlihatkan satu hal: ketika komunitas bergerak dan pemerintah hadir sebagai pendukung—bukan pengendali—maka peluang keberhasilan menjadi lebih besar. Namun sebaliknya, ketika dukungan itu melemah, maka yang tersisa hanyalah kerja keras tanpa arah.

Panen pertama sering kali menjadi titik paling menggembirakan, sekaligus paling rawan. Tantangan berikutnya justru lebih kompleks: menjaga konsistensi produksi, membuka akses pasar, dan menghadapi fluktuasi harga.

Tanpa itu, semangat yang hari ini menyala bisa saja meredup.

Di sisi lain, keberhasilan kecil seperti ini seharusnya menjadi bahan refleksi yang lebih luas. Bahwa ketahanan pangan tidak selalu membutuhkan proyek besar dengan anggaran fantastis. Ia bisa tumbuh dari desa, dari kelompok kecil, dari anak-anak muda yang memilih kembali ke tanah.

Dan mungkin, dari jagung-jagung yang dipanen pagi itu, ada satu hal yang lebih penting dari hasilnya: kepercayaan bahwa perubahan, sekecil apa pun, bisa dimulai dari bawah.

Namun kepercayaan itu tidak cukup dibiarkan berjalan sendiri. Ia perlu dijaga, dipelihara, dan—yang paling penting—didukung. Karena tanpa itu, harapan yang tumbuh di Desa Kunci bisa saja berhenti sebagai cerita, bukan menjadi gerakan.

Example 300250
Example 120x600